//
Ada Skenario Jatuhkan Dahlan Iskan | Survey : Dahlan Iskan Tak Tertandingi | KPK Pastikan Jemput Paksa Anas | Fakultas Kedokteran Unsrat Manado Kembali Panas | Tangker Karam, BBM Cemari Laut Tagulandang | Sendikat Sejata Api Filipina Masih Berkeliaran | Langganan Manado Post Gratis ke Hongkong-Macau | Manado Waspada Bencana | Sebelas Ribu Warga Manado Tanpa NIK-KK
news menu leftnews menu right

 

Home Utama Pelajar Mendesak Tes Darah


Pelajar Mendesak Tes Darah
Thursday, 29 August 2013 10:49

1.603 Pengidap AIDS di Sulut
Editor: Irvan Sembeng ; Peliput: Tim Manado Post
MANADO—Langkah antisipasi sudah harus dilakukan pemerintah dalam menekan angka penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Sulut, khususnya di kalangan pelajar. Pasalnya dari data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulut, penderita HIV/AIDS mencapai 1.603 orang, dengan  33 orang telah menderita sejak usia remaja.

Tak heran pihak Dinkes maupun Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Sulut didesak untuk mendeteksi penyakit mematikan itu, dengan cara melakukan tes darah. “Tes darah di kalangan siswa adalah hal yang positif, karena dapat digunakan untuk langkah antisipasi serta mendeteksi pengidap HIV/AIDS di kalangan pelajar,” ungkap Pengamat Sosial Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unsrat DR Dra Heny Pratiknjo MA.

Namun menurut Pratiknjo, dalam pelaksanaannya perlu dilakukan bersama dengan bidang yang terkait dengan itu. “Setidaknya dinas pendidikan dan dinas kesehatan harus bekerja secara sinergis karena kedua instansi ini memiliki peran yang penting untuk kegiatan seperti itu,” tegas Pratiknjo.

Sejumlah orang tua murid yang kami wawancarai terpisah, tak keberatan bahkan setuju dilakukan tes darah untuk para pelajar. “Jika dianggap perlu dan untuk kebaikan anak kami, kenapa tidak dilakukan tes darah? Karena memang penyebaran HIV/AIDS sudah sangat mengkuatirkan, termasuk di kalangan pelajar,” aku Hendra P, salah satu orang tua murid di salah satu SMA di Kota Manado.     
Usulan ini pun mendapat tanggapan positif Kepala Dinas Pendidikan Sulut Harold Monareh SH MSi. “Dinas Pendidikan akan sepenuhnya mendukung jika itu memang  diperlukan. Akan disosialisasikan kepada sekolah-sekolah yang ada di Sulawesi Utara, jika memang sudah menjadi kesepakatan bersama semua elemen masyarakat,” aku Monareh.

Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Sulut dr Maxi Rondonuwu. Menurutnya  melakukan tes darah guna mengetahui siswa-siswa yang sudah mengidap penyakit HIV/AIDS sangatlah positif. “Karena untuk lebih dini mengetahui dan melakukan satu penyelamatan melalui rehabilitasi kepada siswa tersebut,” terang Rondonuwu. “Namun yang perlu diketahui bahwa harus ada prosedur yang jelas dalam melakukan kegiatan tes darah kepada siswa-siswa, karena hasil yang diperoleh tidak bisa diekspos ke masyarakat karena akan melanggar HAM,” kata Rondonuwu, sembari mengatakan untuk melakukannya perlu ada pendekatan yang lebih psikologis sehingga siswa bisa memastikan haknya akan dilindungi.

Sementara itu, ditambahkan Kepala Bidang PMK Dinas Kesehatan Sulut dr Nora Lumentut, terkait usulan Dinas Pendidikan untuk melakukan tes darah bagi seluruh siswa di Sulut, pasti akan didukung penuh. Hanya saja, pemeriksaan tersebut harus mengikuti prosedur resmi yang sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Menurutnya, prosedur awal yaitu konseling massal. Kemudian disaring bagi siswa-siswi yang dianggap beresiko. “Jika mereka bersedia, barulah dilakukan pemeriksaan laboratorium secara lengkap,” kata dr Nora.

Dirinya pun menegaskan, perlu ada kebijakan yang serius dari pemerintah terkait nasib pendidikan bagi mereka yang  positif mengidap virus tersebut. “Jangan sampai hal ini memvonis dan menggagalkan proses pendidikan siswa tersebut,” pungkas dr Nora.
Pengembangan penderita HIV/AIDS di Sulut terbilang cukup tinggi. Bayangkan saja data medio Maret 2013 lalu adalah 1.259 penderita, sedangkan kini sudah 1.603 penderita, berarti dalam 4 bulan terakhir naik hingga 20 persen. Bahkan lonjakan HIV/AIDS tiga tahun terakhir mengalami kenaikan serius. Tahun 1997-2009 total  penderita HIV/AIDS sudah 534 orang. Setahun kemudian, bertambah 38 penderita HIV dan 114 penderita AIDS, sehingga total penderita  HIV/AIDS pada 2010 mencapai 152 orang. Sedangkan, jumlah penderita pada 2012 bertambah lagi 236 orang. Khusus tahun 2013 sampai Maret, sudah 63 orang yang terjangkit. Total penderita HIV/AIDS sampai Maret 2013 sudah mencapai 1.259 orang. Dari jumlah tersebut yang meninggal dunia 160 orang.

Sedangkan  Kota Manado masih menjadi penyumbang tertinggi penyebaran HIV/AIDS dengan jumlah 496 penderita, disusul Kota Bitung dengan jumlah 271 penderita dan Minahasa sebanyak 155 orang.

Untuk distribusi penderita HIV/AIDS menurut pekerjaan, sesuai data situasi HIV/AIDS Sulut jumlah terbanyak adalah pekerja swasta atau wiraswasta sebanyak 365 orang. Disusul ibu rumah tangga mencapai 244 orang, pengangguran sebanyak 158 orang, dan keempat Pekerja Seks Komersian (PSK) mencapai 90 orang.(***)


 

 

Manufaktur Hope - Dahlan Iskan

 



Kawanuapolis Ekonomi Pembangunan Editorial Pembaca&Penulis My Campus Kesehatan Nasional Internasional



Powered by Manado Post.