//
Ada Skenario Jatuhkan Dahlan Iskan | Survey : Dahlan Iskan Tak Tertandingi | KPK Pastikan Jemput Paksa Anas | Fakultas Kedokteran Unsrat Manado Kembali Panas | Tangker Karam, BBM Cemari Laut Tagulandang | Sendikat Sejata Api Filipina Masih Berkeliaran | Langganan Manado Post Gratis ke Hongkong-Macau | Manado Waspada Bencana | Sebelas Ribu Warga Manado Tanpa NIK-KK
news menu leftnews menu right

 

Home Utama Ibu dan Anak di Remboken 10 Tahun Berteduh di Bawah Pohon


Ibu dan Anak di Remboken 10 Tahun Berteduh di Bawah Pohon
Saturday, 10 August 2013 07:33

Wilhemina: Kita Musti Jaga Karena Dia Kita pe Anak

Di Kabupaten Minahasa masih ada warganya yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan tanpa ada perhatian pemerintah. Warga tersebut bernama Wilhemina Mogot, yang tinggal bersama anaknya di gubuk yang sangat tidak layak. Laporan: Citra Soputan

BERJUANG hidup sudah menjadi harga mati bagi Oma Wilhemina Mogot, salah satu warga Desa Kaima Lingkungan III Kecamatan Remboken, Minahasa. Sudah sekira sepuluh tahun, wanita berumur 82 tahun ini menjalani hidupnya tanpa adanya perhatian lebih dari orang lain.

Sebetulnya tinggal di kebun,  itu hal yang biasa saja bagi warga lainnya. Namun di era yang maju saat ini, kita akan terkejut melihat kehidupan dari oma Wilhemina. Bagaimana tidak, selama sepuluh tahun hidup serba berkekurangan dengan seorang anaknya yang berumur 40 tahun yakni Dani Mogot.

Mereka berdua hanya bisa berteduh di bawah pohon dengan beratapkan terpal tua yang telah banyak berlubang dan beralaskan tanah. Miris memang, di tengah gencar-gencarnya pihak pemerintah menyalurkan bantuan, bahkan yang terakhir adalah Bantuan Langsung Sementara (BLSM), ibu tua ini tidak terdaftar sebagai penerima.

Hal itu tidak membuat dirinya menyerah. Diyakininya bahwa manusia tak akan dibiarkan mati hanya karena kelaparan, tetap berjuang untuk hidup meski berat. Semangat inilah yang terus tertanam dalam dirinya. Tak banyak yang mampu bertahan dengan kondisi yang dialaminya bersama anaknya Deni yang selama ini dianggap tidak waras atau gila oleh banyak orang. "Biar dia pe kondisi begitu, kita tetap sayang dia. Karna itu kita musti jaga karna  dia itu kita pe anak," ujarnya kepada sejumlah wartawan.

Deni sendiri sering duduk menyendiri di dalam rumahnya yang tanpa ada penangkal angin. Bahkan informasi yang diperoleh, di saat hujan berganti panas, keduanya tetap bertahan di tempat itu termasuk saat dikunjungi wartawan.

Meski sudah tua, oma Wilhemnia tetap berusaha untuk menghidupi anaknya yang telah ditinggalkan istrinya sekira 15 tahun silam. "Sejak dianggap gila, Deni ditinggalkan istrinya. Deni sering dikucilkan warga kampung. Akhirnya Deni dibawa oleh ibunya ke kebun ini. Dan oma Wilhemina berusaha menjaga anaknya itu. Termasuk mencari makan dan mencarikan pakaian bekas," ujar salah satu warga kepada wartawan.

Melihat perjuangan hidup yang tidak mudah itu, sejumlah pihak mendirikan pos peduli untuk mengumpulkan bantuan yang nantinya akan diserahkan kepada oma Wilhemnia dan anaknya. Termasuk Wakil Bupati Minahasa Ivan Sarundajang, langsung mendatangi oma tersebut untuk membantu.
Pihak Pemerintah Kabupaten Minahasa melalui Kabag Humas Agustivo Tumundo mengaku, pihaknya baru menerima laporan tersebut dan telah diteruskan kepada Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow. "Setelah mendapatkan informasi itu, langsung disampaikan ke bupati. Dan mungkin dalam waktu dekat kita akan segera menindaklanjuti informasi tersebut," ujar Tumundo.

Sementara itu Kabag Kesra Setdakab Minahasa Dra Nova Supit mengaku pihaknya belum mendengar informasi tersebut. "Saya belum mendengarnya nanti akan dikroscek dulu," pungkas Supit yang dihubungi malam tadi. (cis)

 

 

Manufaktur Hope - Dahlan Iskan

 



Kawanuapolis Ekonomi Pembangunan Editorial Pembaca&Penulis My Campus Kesehatan Nasional Internasional



Powered by Manado Post.