//
Ada Skenario Jatuhkan Dahlan Iskan | Survey : Dahlan Iskan Tak Tertandingi | KPK Pastikan Jemput Paksa Anas | Fakultas Kedokteran Unsrat Manado Kembali Panas | Tangker Karam, BBM Cemari Laut Tagulandang | Sendikat Sejata Api Filipina Masih Berkeliaran | Langganan Manado Post Gratis ke Hongkong-Macau | Manado Waspada Bencana | Sebelas Ribu Warga Manado Tanpa NIK-KK
news menu leftnews menu right

 

Home Utama Diplomasinya Membuat PBB Akui Kemerdekaan RI


Diplomasinya Membuat PBB Akui Kemerdekaan RI
Tuesday, 20 August 2013 03:47

LN Palar Layak Diberi Gelar Pahlawan
Sabtu 17 Agustus 2013, seluruh Bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-68.  Di tengah kemeriahan HUT kemerdekaan, negara seakan melupakan salah satu sosok yang ikut menentukan Indonesia merdeka.  Sosok tersebut yakni Lambertus Nicodemus Palar atau akrab disapa Babe Palar. Editor: Tommy Waworundeng

PASCA Soekarno dan Hatta membacakan teks Proklamasi dan menaikkan bendera merah putih di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Belanda masih menganggap Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda, masih milik negara yang dipimpin Ratu Wilhemina itu. Belanda masih melancarkan Agresi Belanda I dan Agresi Belanda II.

Indonesia memang saat itu telah memiliki wilayah tertentu, memiliki penduduk yang menetap, memiliki sebuah pemerintahan, dan bahkan telah memiliki bendera serta lagu kebangsaan. Tetapi itu belum cukup.

Hindia Belanda dituntut harus mampu berinteraksi dengan negara-negara lain. Semua itu tidak ada gunanya karena negara-negara lain tidak mengakui keberadaan dan kemerdekaan yang diproklamirkan Soekarno. Pengakuan internasional memberikan legitimasi negara di komunitas internasional. Salah satu pengakuan yang terpenting adalah pengakuan dari pemerintah Amerika Serikat. Setelah itu mendapat pengakuan PBB.

Tetapi Indonesia saat itu tidak diakui Amerika, apalagi sekutu-sekutunya terutama PBB. Sehingga kemerdekaan Indonesia hanya bertepuk sebelah tangan. Tetapi pada tahun 1947 pasca Proklamasi, Indonesia sudah mulai ikut PBB walaupun baru sebatas peninjau.
Saat itu putra kelahiran Rurukan, Tomohon 5 Juni 1900 yang bernama lengkap Lambertus Nicodemus Palar, menjadi utusan Indonesia. Ia merupakan  utusan pertama Indonesia di PBB. Ia menjabat sampai tahun 1953. Pada masa ia menjabat, peristiwa-peristiwa penting terjadi. Terutama pengakuan internasional terhadap kemerdekaan RI.

Kehebatan diplomasi LN Palar yang membuat Amerika dan PBB memarahi dan mendesak Belanda agar segera meninggalkan Indonesia. Memang sejak Palar diutus pada tahun 1947, terjadi beberapa kali perdebatan dengan Belanda di sidang PBB. Belanda berulangkali mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945,  hanya ulah dari segelintir orang. Kepada Amerika dan negara-negara lain di PBB, Belanda mengatakan, itu hanyalah ulah sekelompok kecil separatis.  Belanda bahkan mengatakan, mayoritas penduduk Indonesia masih lebih senang di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

Palar selalu tampil berjuang memperdebatkan posisi kedaulatan Indonesia di PBB dan di Dewan Keamanan, walaupun pada saat itu dia hanya mendapat gelar "peninjau" karena Indonesia belum menjadi anggota pada saat itu.

Kemudian pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta yang saat itu menjadi Ibu Kota Indonesia.

Tindakan Belanda ini menjadi kejatuhan Belanda. Babe Palar pinter memanfaatkan momentum. Ia tidak tahu berperang. Palar berperang dengan cara diplomasi, cara yang lebih intelek, tidak mengandalkan otot tetapi otak. Agresi Militer II ini dijadikan ‘senjata’ oleh LN Palar untuk membangkitkan amarah Amerika.

Palar tahu betul Amerika masih trauma peristiwa penyerangan Jepang terhadap instalasi militer Amerika di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Kemarahan Amerika itu bangkit kembali setelah Palar menyinggung kejadian itu. Saat itu Palar menceritakan bahwa Tindakan Belanda lewat Agresi Militer II, sama halnya dengan tindakan Jepang yang menghancurkan Pearl Harbor. Perkataan itu yang membangkitkan amarah Amerika terhadap Belanda dan langsung memerintahkan Belanda agar segera meninggalkan Indonesia. Karena telah diancam oleh Amerika dan PBB, Belanda pun mengakui kemerdekaan Indonesia. (berbagai sumber)

 

 

Manufaktur Hope - Dahlan Iskan

 



Kawanuapolis Ekonomi Pembangunan Editorial Pembaca&Penulis My Campus Kesehatan Nasional Internasional



Powered by Manado Post.