Halaman Depan

BBM Picu Trafficking
PE Sulut Turun 0,9 %


MANADO— Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) ternyata tidak hanya memicu kenaikan harga bahan pokok, PHK massal dll. Di Sulut, sangat mungkin dampaknya akan terjadi peningkatan persoalan perempuan seperti trafficking (perdagangan perempuan dan anak).
Hal ini diakui Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setprov Sulut Dra Greety Sumayku saat dihubungi kemarin. “Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup, memungkinkan perempuan rela menjajakan dirinya. Modus lain yang biasa dilakukan adalah penipuan para germo dengan iming-iming pekerjaan. Yang jelas tiap tahun mengalami peningkatan 10-15 persen,” bebernya.
Ia menambahkan, berdasarkan investigasi selama ini Manado sebagai ibu kota provinsi, sudah lama menjadi kawasan trafficking perempuan yang aman. Karena terindikasi kuat mendapat backing dari oknum-oknum tertentu. Bandara Sam Ratulangi dan Pelabuhan Bitung diduga kuat menjadi jalur penyaluran perempuan ke Batam dan Papua. “Ini yang membuat sulit,” ujarnya.
Greety mencontohkan pelayaran Manado ke Papua 3 kali pemberangkatan dalam 1 minggu. “Kami mengindikasikan setiap pelayaran terjadi pengangkutan perempuan Manado. Bayangkan, berapa saja dalam setahun?,” tanyanya.
Senada diungkapkan aktivis perempuan Sulut Vivi George. Menurutnya, BBM berdampak kuat pada peningkatan kasus-kasus trafficking di Sulut. Ia menjelaskan, selain faktor kemiskinan juga faktor gaya hidup kawula muda Sulut yang terkesan hura-hura. Belum lagi faktor fisik perempuan Sulut yang cantik-cantik. “Inilah faktor-faktor yang menjadi pendorong terjadinya berbagai kasus terhadap perempuan,” tegasnya.
Tindak pidana perdagangan orang memang telah diatur dalam Perda 1 dan UU nomor 21 tahun 2007. Namun, menurut Vivi, Perda tersebut masih lemah karena masih bersifat administratif. Sedangkan UU masih lemah pada sistem koordinasi para penegak hukum untuk menuntaskan kasus-kasus yang sudah terangkat ke permukaan. “Langkah-langkah aparat penegak hukum sangat penting. Yang sudah terangkat saja lama penindakannya, apalagi banyaknya persoalan trafficking yang belum terungkap,” tambah aktivis Swara Parangpuang Sulut.
Menanggapi hal tersebut, Greety menegaskan bahwa Perda dan UU sudah sangat tegas dalam pemberian sanksi. “Kami sudah ketemu dengan Kapolda dan sudah sepakat untuk membuka kembali kasus-kasus perempuan yang sudah pernah terangkat namun belum ditindak,” ujarnya.
Selain Trafficking, kenaikan BBM juga berdampak pada faktor psikologis. Karena latar belakang ekonomi yang memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jumlah korban KDRT mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hingga 2007, tercatat jumlah korban KDRT sebanyak 112 orang. Bahkan, selang tahun 2006-2007 telah mengalami peningkatan lebih dari 50 persen. “Memang diakui masih banyak pria yang kurang responsive terhadap gender,” tegasnya.
Solusi yang bisa meminimalisir tindak pidana perdagangan perempuan dan KDRT saat ini adalah kerjasama semua pihak baik pemerintah, penegak hukum, LSM, media massa dan masyarakat. “Bersama kita bisa,” pungkasnya.
PE SULUT TURUN 0,9 %
Sementara itu, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi Sudah pasti memukul ekonomi makro Sulut. Hampir semua sendi ekonomi terkena imbas, jika rata-rata harga BBM subsidi naik 30 %. Dalam hitungan Bank Indonesia Manado, kenaikan harga BBM memaksa pemerintah dan rakyat Sulut harus menelan pil pahit. Target pertumbuhan ekonomi (PE) Sulut sekitar 6,5 % sulit tercapai. Dengan kenaikan harga BBM subsidi 30 %, PE bakal terkontraksi sebesar 0,9 %.
‘’Asumsi kami setelah sektor input maupun output dimasukkan, jika harga BBM rata-rata naik 10 %, maka PE bisa terkoreksi sekitar 0,3 %. Berarti kalau 30 % kenaikan BBM tinggal dikalikan tiga,’’kata Pemimpin Bank Indonesia (BI) Manado Jeffrey Kairupan di ruang kerjanya.
Bukan hanya itu, target inflasi di kisaran 4 - 5 %, sangat sulit dipertahankan. Menurut Kairupan didampingi pejabat teras BI Manado, kenaikan BBM memantik pergerakan biaya produksi, biaya transportasi dan ujung-ujungnya semua harga komoditi khususnya komoditi olahan akan melonjak tajam. Sehingga memicu inflasi 4 % lebih.
‘’Jika harga BBM naik 10 %, tanpa melihat apakah sektor naik atau ceteris paribus, menghasilkan inflasi 1,4 %. Nah kalau inflasi kumulatif sampai akhir 2008 sebesar 4-5 %, sudah bisa dihitung berapa ketambahan kenaikan inflasi,’’tandasnya.
Namun demikian, Sulut tidak akan larut terseret arus kenaikan harga BBM, jika pemerintah maupun stakeholders lainnya memaksimalkan sektor pertanian. Tidak ada jalan lain, selain mengandalkan sektor pertanian sebagai sektor fundamental Sulut. Berdasarkan data BPS PE trwulan IV 2007 sektor pertanian menjadi sumber petumbuhan pertama dan penyumbang PDRB tertinggi menurut lapangan usaha yaitu sebesar Rp 1.425 miliar atau 19,64 %.
‘’Makanya kami lagi mencari metode bagaimana kita dan perbankan menggenjot dan fokus kepada sektor pertanian,’’kata Kairupan.
Menurut Kairupan, selama ini yang menggerakkan pembangunan ekonomi Sulut adalah belanja pemerintah. Padahal, sumber pendanaan untuk menggerakkan ekonomi paling bagus dari bank. ‘’Belanja pemerintah sebatas stimulus, harusnya perbankan diberikan peran,’’katanya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) SUlut Jasa Bangun mengakui bahwa target PE bisa terkoreksi, jika harga BBM naik. Bukan hanya itu, target inflasi sulit dipertahankan, akibat administrated price. ‘’Tekanan inflasi paling besar jika diakibatkan kebijakan pemerintah seperti kenaikan BBM,’’ kata Jasa.
CARI SOLUSI
Sementara, kepastian naiknya harga BBM mau tidak mau pemerintah daerah harus mengambil langkah konkrit. Dan, sektor yang berpotensi seperti pariwisata, perikanan dan pertanian sangat diharapkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kadis Pariwisata dan Budaya Edwin Silangen mengungkapkan, sektor pariwisata memang sangat menjanjikan dan akan bisa menjawab harapan masyarakat di tengah himpitan ekonomi ini. “ Sektor pariwisata sebagai sektor unggulan nantinya bisa memberikan andil dalam peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan berbagai iven di tahun 2008 ini akan melibatkan dan memberdayakan masyarakat. Pihaknya akan memfasilitasi pengusaha restoran dan IKM seperti warung-warung makanan khas dan souvenir untuk bisa menyerap tenaga kerja. “Nah, ini akan memberikan multiplier effect kepada masyarakat,” katanya.
Kepala Dinas pertanian dan Peternakan Sulut Ir Herry Rotinsulu mengatakan, “Kenaikan harga BBM memang akan berdampak pada kegiatan pertanian. Tetapi sudah saatnya beralih ke pertanian. Dengan mengoptimalkan lahan-lahan pertanian yang masih kosong dan tetap melakukan kegiatan usaha tani agar tetap berproduksi. Saat ini pemerintah siap membantu petani yang mengalami kesulitan dalam menjalankan usaha taninya,” katanya. Ia menambahkan, sekarang ini ada beberapa bantuan benih, pupuk, obat-obatan dan kredit bagi petani. Peluang ini harus ditangkap pemerinta.
“Masalah kenaikan obat-obatan serta alat pertanian kami bisa memfasilitasi petani dengan bantuan-bantuan alat lewat sistem kredit,” kata Herry Rotinsulu.
Kadis Perikanan dan Kelautan Ir Xandramaya Lalu MS mengatakan, “ Bagi budidaya perikanan dampak belum terlalu terasa karena secara keseluruhan budidaya perikanan masih bersifat tradisional. Tetapi paling terasa adalah penangkapan ikan di laut.”
Menurutnya, kenaikan BBM nelayan akan membatasi diri untuk pergi menangkap ikan di laut. Karena harus diperhitungkan costnya. Kadang nelayan tidak bisa memprediksikan kapan ikan itu banyak atau kurang. Diupayakan, kegiatan penangkapan ikan tetap terlaksana dengan memperhitungkan costnya, agar nelayan tidak dirugikan.
Pihaknya lagi mensosialisasikan agar segera beralih ke budidaya perikanan. Untuk menghindari masalah ini, dengan jalan bagi kolam-kolam yang masih kosong di Sulut akan diberdayakan diisi bibit ikan seperti Mas, Mujair, Nila. Bibit-bibit ini bisa langsung diambil di kolam ikan Tatelu. Hal ini dilakukan penyebaran bibit-bibit ikan di kolam-kolam agar 6 bulan ke depan tetap tersedia ikan yang melimpah Di Sulut.
Begitu juga rumput laut. Akan diberikan bantuan untuk budidaya rumput laut. “Sehingga sangat membantu terjadi peningkatan produksi perikanan dan kelautan di Sulut terutama dalam menjelang pelasanaan WOC 2009,” ulas Xandra. (cw-06/cw-02/cw-9/ham)

 

www.mdopost.com